selamat datang di 'Seputar Blog' MEDIA MENULIS TANPA BATAS semoga blog ini berguna sebagai media informasi
Saat ini yang anda butuhkan mungkin tersedia di maininternetonline.blogspot.com
silahkan menuju blog baru saya dan dapatkan informasi lengkap yang anda butuhkan klik
Dunia zat terlarang dipenuhi istilah tak lazim. Ketika ekstasi (sering disingkat XTC mewabah, dengan cepat muncul istilah baru, inex yang merupakan kata bentukan ex yang dipanjangkan dengan sisipan in. Ada pula yang menyebutnya singkat, I, tak serumit jenisnya yang banyak beredar: apple, pink lady, Paman Gober, butterfly, dsb.
Putau (ada juga yang menuliskan putauw dengan singkatan PTW) memang sekadar penyederhanaan istilah hasil rekaan para pedagang, agar heroin (sering disebut hero saja) tak kelewat menyeramkan. Identifikasi terhadap bendanya sering dipakai istilah "bedak" (walaupun ada juga yang dipadatkan dalam bentuk potongan kertas isap dan didagangkan dengan nama El Cid. Kemudian muncul istilah sakau untuk menggambarkan rasa sakit saat ketagihan akibat lepasnya zat. Pada tingkat parah, istilah umumnya adalah hard core.
Gelek adalah julukan bagi ganja sejak lama. Beberapa tahun belakangan, anak muda Jakarta acap menyebutnya cimeng atau cimenk, dan tak sedikit yang menamakannya "rumput" sebagai terjemahan bebas dari grass. Tahun 1970-an ganja tipe Buddha Stick atau BS sudah muncul, namun kini kembali jadi trend. Ganja yang berasal dari segitiga emas Asia Tenggara ini diakui lebih hebat dari ganja lokal keluaran Aceh.
Shabu adalah nama di beberapa negara Asia untuk menunjuk sejenis methamfetamin. Nama jalanan yang dikenal internasional adalah speed, meth, atau ice. Sangat banyak orang yang salah menyebutnya menjadi shabu-shabu atau SS, rupanya karena dikacaukan dengan nama masakan ala Jepang.
Putau atau shabu yang dikonsumsi lewat cara bakar istilahnya di-drug atau dregi. Ketika bereaksi, istilahnya high, badai, fly, atau on untuk ekstasi.
Jika istilah BD dipakai untuk menyebut bandar, pengecer skala kecil disebut gou. Karena harga barang relatif mahal, pemakai sering membeli secara patungan, istilahnya "PT-PT" (baca: pete-pete). Di tingkat ini sering diperdagangkan bungkusan pahe atau paket hemat 0,1 - 0,5 g. Ada pemakai putau yang sakau, dirayu pedagang untuk menghilangkan rasa sakitnya dengan shabu. Ia pun ber-alih profesi menjadi konsumen shabu. Kenyataannya memang tidak sembuh, malah menjadi ketergantungan.